Ada satu masa di mana saya mengira orang yang pakai Linux itu pasti jenius. Mereka ngetik perintah warna-warni di layar hitam, dan entah kenapa file mereka berpindah, server mereka nyala, dan hidup mereka kelihatannya lebih teratur dari hidup saya. Saya kira mereka dilahirkan dengan手册手册手册 (manual) di tangan.
Saya salah.
2018. Dual boot yang nyaris tidak pernah dipakai
Kali pertama saya install Linux, saya pilih Ubuntu 18.04. Dual boot dengan Windows 7 yang waktu itu sudah mulai ngambek. Proses installasinya saya kerjakan tiga jam, karena saya googling setiap error. Setelah jadi, saya masuk ke desktop Unity — oh, ternyata ada GUI juga — lalu saya buka Firefox, nonton YouTube, dan关闭 laptop.
Dual boot itu saya pakai untuk Windows. Ubuntu-nya? Cuma masuk dua kali sebulan, lihat-lihat, lalu balik ke Windows.
2020. WFH memaksa saya belajar terminal
COVID. Semua orang di rumah. Laptop kantor minta di-install ulang, saya dikasih remote ke server kantor. Dan server itu tidak punya GUI. Hanya ada terminal hitam dengan kursor kedip.
Hari pertama, saya googling: how to ls folder in linux. Hari kedua, how to copy file in linux. Hari ketiga, how to exit vim (yang ternyata :q!, dan saya baru tahu setelah 20 menit).
Tidak ada kursus kilat yang membuat Anda mahir. Hanya jam terbang, error, googling, dan kopi yang sudah dingin.
2021. Jatuh cinta dengan Neovim
Saya tidak ingat persis kenapa saya coba Neovim. Mungkin karena sebuah video di YouTube. Mungkin karena saya bosan dengan VSCode yang makan RAM 1.5 GB. Pokoknya saya buka nvim di terminal, layar kosong dengan beberapa baris bantuan, dan saya terpaku.
Saya habiskan dua minggu untuk produktif di Neovim. Dua minggu itu isinya: setting init.vim, install plugin, broken, install ulang, broken lagi, akhirnya pakai config orang lain yang saya salin, lalu perlahan saya modifikasi pelan-pelan sampai jadi config saya sendiri.
2023. Beli VPS pertama
Saya beli VPS $5. Waktu itu tujuannya cuma pingin punya server sendiri, host beberapa script, dan mungkin pasang WireGuard untuk tunneling. Yang terjadi: saya install Docker, saya belajar Nginx, saya belajar SSL, saya belajar firewall. Dan tiba-tiba saya bukan lagi orang yang cuma bisa Windows.
2026. Sekarang
Hari ini saya menulis ini di Neovim, di terminal Linux, sambil menjalankan beberapa container di VPS. Tidak ada yang istimewa dari skill saya. Tapi ada satu hal yang berubah: saya tidak lagi takut dengan layar hitam.
Beberapa hal yang saya harap tahu di awal
- Anda tidak perlu hafal semua perintah. Google adalah memory eksternal Anda. Itu tidak curang.
- Distro itu seperti bahasa pemrograman. Pilih yang komunitasnya Anda nyaman bertanya. Saya pilih Ubuntu karena banyak orang Indonesia yang pakai.
- Backup sebelum utak-atik. Selalu. Bahkan kalau cuma edit
fstab. - Bikin catatan. Anda akan lupa. Saya lupa. Kita semua lupa.
- Jangan pakai Arch di laptop produksi. Percaya sama saya.
Kalau Anda sedang di titik di mana terminal terasa menakutkan — saya pernah di sana. Anda akan baik-baik saja. Pelan-pelan saja.
— hendra, dari kursi yang sama di kamar yang sama, terminal yang sama, dengan secangkir kopi yang sudah dingin (lagi).